BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Perhatian
terhadap anak usia dini sangatlah dibutuhkan dalam rangka pendidikannya. Tetapi mengapa banyak
orang tua yang kurang bahkan belum menyadari dan mengabaikan hal tersebut. Mereka hanya sibuk
mengurusi dirinya dan sibuk mencari nafkah, walaupun itu juga untuk
anak-anaknya. Mereka tidak peduli akan pendidikan anak-anaknya dan hanya
mempercayakan pendidikan anaknya di rumah kepada pembantu atau pengasuhnya.
Satu hal yanh terabaikan yaitu kurang adanya penanaman disiplin pada anak sejak
usia dini di dalam keluarga. Hal itu
akan berpengaruh pada perkembangan moral anak dalam kehidupan.
Sesungguhnya
pendidikan itu dimulai sedini mungkin, begitu juga dengan penanaman disiplin
pada anak. Memang tidaklah mudah mewujudkan semua itu. Disiplin menuntut
kesadaran seseorang untuk melakukan dan tidak melakukan apa yang harus dan
tidak harus dilakukan. Disiplin seseorang tidak boleh dipaksakan bahkan pada
anak kecil sekalipun.
B.
Rumusan
Masalah
Apa
saja karakteristik-karakteristik penanaman disiplin bagi AUD
C.
Manfaat
Penulisan
-
Mengetahui hakikat dan tujuan disiplin
AUD
-
Mengetahui pengertian dan Penanam
disiplin bagi AUD
-
Mengetahui beberapa cara penanaman
disiplin AUD
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Bermain
Bermain
adalah suatu kegiatan yang dilakukan dengan atau tanpa menggunakan alat yang
menghasilkan pengertian atau memberikan informasi, memberi kesenangan maupun
pengembangan imajinasi pada anak. Bermain merupakan hak asasi bagi anak usia
dini yang memiliki nilai utama dan hakiki pada masa pra sekolah. Kegiatan
bermain bagi anak usia dini adalah sesuatu yang sangat penting dalam
perkembangan kepibadiannya. Bermain bagi seorang anak tidak sekedar mengisi
waktu, tetapi media bagi anak untuk belajar. Setiap bentuk kegiatan bermain
pada anak pra sekolah mempunyai nilai positif terhadap perkembangan
kepribadiannya. dapat disimpulkan bahwa bermain adalah kegiatan yang dilakukan
secara sukarela dengan ataupun tanpa mempergunakan alat, sebagai pengalaman
belajar untuk memperoleh pengetahuan dan mengembangkan kemampuan dalam diri
(anak) yang dapat menimbulkan kesenangan/kepuasan.
B. Teori Bermain
Secara umum
teori-teori tentang bermain dapat digolongkan menjadi dua, yaitu sebagai
berikut:
1. Teori Klasik (abad ke-19 sampai
perang Dunia I)
a. Teori Kelebihan Energi
(Herbert Spencer), menyebutkan bahwa manusia mempunyai energi lebih (energi
surplus) yang digunakan untuk bermain.
b. Teori Relaksasi/Rekreasi
(Schaller dan lazarus), Menyebutkan bahwa bermain mengisi kembali energi yang
telah terpakai dalam bekerja.
c. Teori Insting (Karl Groos),
merupakan semacam latihan awal dimana bermain mempersiapkan anak-anak untuk
peran-peran yang akan dilakukan dikemudian hari.
d. Teori Rekapitulasi (G.Stanley
Hall), mengatakan bahwa anak-anak mengulangi aktivitas leluhurnya, karena itu
pegalaman-pengalaman nenek moyang/ leluhur akan tertampil di dalam kegiatan
bermain pada anak.
2. Teori Modern (setelah perang
Dunia I)
a. Teori Psikoanalisa dari
Sigmund Freud, memandang bermain sama seperti fantasi atau lamunan. Melalui
bermain ataupun fantasi seseorang dapat memproyeksikan harapan-harapan maupun
konflik serta pengalaman yang tidak menyenangkan. Hal tersebut dilakukan
sebagai upaya bagi seseorang dalam memenuhi harapan yang tidak dapat diwujudkan
dalam kehidupan nyata, mengatasi konflik dan pengalaman yang tidak
menyenangkan. Selain itu bermain anak sebagai alat yang penting bagi pelepasan
emosinya serta untuk mengembangkan rasa harga diri ketika anak dapat menguasai
tubuhnya, benda-benda serta sejumlah ketrampilan sosial.
b. Teori Perkembangan Kognitif
dari Jean Piage (1963), berpendapat bahwa anak menciptakan sendiri
penengetahuan mereka tentang dunianya melalui interaksi mereka ketika bermain.
Karena perkembangan bermain berhubungan dengan perkembangan kognitif maka
perkembangan kognitif anak juga mempengaruhi kegiatan bermainnya.
c. Teori dari Lev Vygotsky
(1967), yang menekankan pemusatan hubungan sosial sebagai hal penting yang
mempengaruhi perkembangan kognitif. Menuruta Vigotsky bermain akan membantu
perkembangan bahasa dan berpikir. Struktur mental terbentuk melalui penggunaan
tanda-tanda (signs) serta alat-alat dan bermain dapat membaarntu pembentukan
struktur tersebut. bermain juga membebaskan anak dari ikatan atau hambatan yang
didapat dari lingkungannya. Dalam hal ini bermain memberi kesempatan pada anak
untuk melakukan kontrol yang lebih besar terhadap situasi yang dihadapi pada
situasi real (sesuai realita yang ada). Anak-anak bermain menggunakan arti-arti
(meanings) tertentu karenanya anak dapat mencapai proses berpikir yang lebih
tinggi.
d. Teori dari Jerome Singer
(1973) memandang bermain khayal merupakan usaha anak untuk menggunakan
kemampuan fisik dan mental guna mengatur atau mengorganisasi
pengalaman-pengalamnya. Bermain digunakan anak untuk menjelajahi dunianya,
mengembangkan kompetensi dalam usaha mengatasi dunianya dan mengembangkan
kreativitasnya.
e. Teori dari Michael Ellis
(1973) memandang bahwa bermain sebagai bentuk pemrosesan informasi. Makhluk
hidup secara menta selalu aktif, mereka terus menerus berusaha membuat
informasi yang sudah diperoleh menjadi berarti. Anak-anak menggunakan bermain
sebagai cara untuk menciptakan informasi dari dalam dirinya sendiri melalui
bermain khayal.
C. Fungsi dan Manfaat Bermain
Bagi seorang anak bermain adalah
kegiatan yang mereka lakukan sepanjang hari, karena bagi anak bermain adalah
hidup dan hidup adalah permaianan. Melaui kegiatan bermain memungkinkan anak
belajar tentang diri mereka sendiri, orang lain, dan lingkungannya. Dalam
kegiatan bermain, anak bebas untuk berimajinasi, bereksplorasi, dan mencipta
sesuatu.
Papalia seorang ahli perkembangan
manusia, dalam bukunya Human Development, menyatakan bahwa anak berkembang
dengan cara bermain. Banyak alasan yang membuat anak suka bermain, beberapa
diantaranya adalah kesenangan, relaksasi, kesehatan, dan belajar. Bagi
anak-anak bermain lebih merupakan suatu kebutuhan yang mutlak ada. Jika tidak,
menurut Conny R. Semiawan (2002:21), ada satu tahapan perkembangan yang
berfungsi kurang baik yang akan terlihat kelak jika anak sudah menjadi remaja.
Kegiatan bermain memiliki
pengaruh yang sangat besar terhadap perkembangan seorang anak. Hal ini
sebagaimana yang dijelaskan oleh Hurlock (2005:323) bahwa terdapat pengaruh
bermain bagi perkembangan anak yaitu: perkembangan fisik, dorongan
berkomunikasi, penyaluran bagi energi emosional yang terpendam, penyaluran bagi
kebutuhan dan keinginan, sumber belajar, rangsangan babi kreativitas,
perkembangan wawasan diri, belajar bermasyarakat, standar moral, belajar
bermain sesuai dengan peran jenis kelamin serta perkembangan ciri kepribadian
yang diinginkan.
Eheart dan Leavitt sebagaimana
yang dikutip Yuliani Nurani (2010:36) berpendapat bahwa kegiatan bermain dapat
mengembangkan berbagai potensi pada anak, tidak saja pada potensi fisik tetapi
pada perkembangan kognitif, bahasa, sosial, emosi, kreativitas dan pada
akhirnya prestasi akademik. Sejalan dengan pendapat tersebut, Wolfgang dan
Wolfgang (1992: 32-37) berpendapat bahwa terdapat sejumlah nilai-nilai dalam
bermain (the value of play), yaitu bermain dapat mengembangkan keterampilan
sosial, emosional dan kognitif. Dalam kegiatan bermain terdapat berbagai
kegiatan yang memiliki dampak terhadap perkembangannya sehingga dapat
diidentifikasi bahwa fungsi bermain antara lain:
1. Dapat memperkuat dan
mengembangkan otot dan koordinasinya melalui gerak, melatih motorik halus,
motorik kasar dan keseimbangan karena ketika bermain fisik anak juga belajar
memahami bagaimana kerja tubuhnya.
2. Dapat mengembangkan
keterampilan emosinya, rasa percaya diri pada orang lain, kemandirian dan
keberanian untuk berinisiatif karena saat bermain anak sering bermain pura-pura
menjadi orang lain, binatang atau karakter orang lain. Anak juga belajar
melihat dari sisi orang lain (empati)
3. Dapat mengembangkan kemampuan
intelektualnya karena melalui bermain anak seringkali melakukan eksplorasi
terhadap segala sesuatu yang ada dilingkungan sekitarnya sebagai wujud dan rasa
keingintahuannya
4. Dapat mengembangkan
kemandiriannya dan menjadi dirinya sendiri karena melalui bermain anak selalu
bertanya, meneliti lingkungan, belajar mengambil keputusan dan berlatih peran
sosial sehingga anak menyadari kemampuan serta kelebihannya.
Selain fungsi bermain sebagaimana
yang telah di jelaskan di atas, dari hasil penelitian yang telah dilakukan oleh
para ilmuwan, diperoleh temuan bahwa bermain mempunyai manfaat yang besar bagi
perkembangan anak, diantaranya sebagai berikut:
1. Manfaat bermain untuk
perkembangan aspek fisik.
Ketika bermain anak mendapat
kesempatan untuk melakukan kegiatan yang banyak melibatkan gerakan-gerakan
tubuh, sehingga membuat tubuh anak menjadi sehat. selain itu, anggota tubuh
mendapat kesempatan untuk digerakkan, dan anak juga dapat menyalurkan tenaga
(energi) yang berlebihan sehingga anak tidak merasa gelisah.
2. Manfaat bermain untuk
perkembangan aspek motorik kasar dan motorik halus.
Aspek motorik kasar dapat
dikembangkan melalui kegiatan bermain, misalnya anak yang bermain kejar-kejaran
untuk menangkap temannya. Aspek motorik halus dapat dikembangkan melalui
kegiatan bermain mewarnai, menggambar bentuk-bentuk tertentu atau meronce
berbagai bentuk dengan variasi berbagai bahan.
3. Manfaat bermain untuk
perkembangan aspek sosial.
Dengan bermain anak belajar
berkomunikasi dengan sesama teman baik dalam hal mengemukakan isi pikiran dan
perasaannya maupun memahami apa yang diucapkan oleh teman,sehingga hubugan
dapat terbina dan dapat saling tukar informasi.
4. Manfaat bermain untuk
perkembangan aspek emosi atau kepribadian. Melalui bermain anak dapat
melepaskan ketegangan yang dialaminya dalam hidupnya sehari-hari. Selain itu,
bermain bersama sekelompok teman anak akan mempunyai penilaian terhadap dirinya
sehingga dapat membantu pembentukan konsep diri, rasa percaya diri, dan harga
diri karena ia merasa mempunyai kompetensi tertentu.
5. Manfaat bermain untuk
perkembangan aspek kognitif
Pada usia dini anak diharapkan
menguasai berbagai konsep seperti warna, ukuran, bentuk, arah, besaran sebagai
landasan untuk belajar menulis, bahasa, matematika, dan ilmu pengetahuan
sosial. Pemahaman konsep-konsep ini lebih mudah diperoleh jika dilakukan
melalui kegiatan bermain.
6. Manfaat bermain untuk mengasah
ketajaman penginderaan.
Penginderaan menyangkut
penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecapan, dan perabaan. Melalui kegiatan
bermain kelima aspek penginderaan dapat diasah agar anak menjadi lebih tanggap
atau peka terhadap hal-hal yang berlangsung di lingknungan sekitarnya.
7. Manfaat bermain untuk
mengembangkan keterampilan olah raga dan menari.
Dalam kegiatan bermain olahraga
anak melakukan gerakan-gerakan olahraga seperti berlari, melompat, menendang
dan melempar bola sehingga anak akan memiliki tubuh yang sehat, kuat dan
cekatan. Dalam kegiatan menari anak melakukan gerakan-gerakan yang lentur dan
tidak canggung-canggung sehingga anak akan memiliki rasa percaya diri.
Bermain selain mempunyai berbagai
manfaat untuk menunjang perkembangan anak, juga dapat dimanfaatkan sebagai
media atau sarana melakukan kegiatan bersama anak seperti: 1). pemanfaatan
bermain oleh guru sebagai alat untuk melakukan pengamatan dan penilaian atau
suatu evaluasi terhadap anak, 2). pemanfaatan bermain sebagai media terapi/
pengobatan terhadap anak bermasalah yang membutuhkan terapi bermain dan, 3).
pemanfaatan bermain sebagai media intervensi yang dapat digunakan untuk melatih
kemampuan-kemampuan tertentu seperti: untuk melatih konsentrasi, melatih
konsep-konsep dasar (warna, ukuran, bentuk dll), melatih anak autisme dan
keterbelakangan mental.
Dengan bermain anak dapat menilai
dirinya sendiri. Kelebihan dan kekurangannya sehingga dapat membantu
pembentukan konsep diri yang positif yaitu mempunyai rasa percaya diri dan
harga diri. Anak akan belajar cara bersikap dan bertingkah laku agar dapat
bekerja sama dengan orang lain, jujur, murah hati dan sebagainya.
DAFTAR PUSTAKA
Hurlock, Elizabeth B. 2005.
Perkembangan Anak Jilid II-Edisi ke 6. Jakarta: Erlangga
Soe, Dockett dan Fleed, Marilyn.
2000. Play and pedagogy in early childhood. Australia : Harcout
Sudono, Anggani. 2000. Sumber
Belajar dan Permainan PAUD. Jakarta: Grasindo
Sujiono, Yuliani Nurani. 2010.
Bermain Kreatif Berbasis Kecerdasan Jamak. Jakarta: PT Indeks
Sugianto, Mayke. 1995. Bermain,
Mainan dan Permainan. Jakarta: DEPDIKBUD Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.
Yenni, 2012. Teori Bermain
Kognitif:
http://yenniagu.blogspot.com/2012/11/teori-bermain-kognitif.html
(Akses: 29 Agustus 2013)
Waroka, Widya. 2012. BERMAIN dan
permainan:
http://widyawarokaa.blogspot.com/2012/12/bermain-dan-permainan.html
(Akses: 29 Agustus 2013)
Pengertian Bermain Menurut Para
Ahli
http://www.lepank.com/2012/07/pengertian-bermain-menurut-beberapa-ahli.html
(Akses: 29 Agustus 2013)
PENDAHULUAN
Dalam dua dekade terakir ini
pertambahan dramatis jumplah anak yang di identifikasi menderita gangguan
kesehatan mental masa anak mrupakan salah satu petunjk dari ada nya tekanan
yang meningkat yang membebani anak anak di masa sekarang. Beban ini tampak
lebih besar kepada anak usia dini di bandingkan anak yang usia lebih tua
dikarenakn anak usia dini belum mampu untuk mendemontrasikan atau belum mampu
mengemukakan masalah mereka dengan memuaskan secara Verbal.
Berbagai bentuk pesikoterapi dan
bimbingan konseling baik tersendiri maupun bersama obat tampaknya jauh lebih
memberikan harapan untuk membantu menuntaskan permasalah terutama waktu masih
usia dini. Untuk mengembangkan mental yang baik perlu adanya terapi bermain
bagi anak yang sekarang semakin terpinggirkan .
Apa bila suatu hari kita
mengunjungi taman penitipan anak ,maka kita dapat mengamati adanya perbedaan
pertumbuhan dan perkembangan setiap anak terhadap kemampuan fisik.
Pendidikan pada dasarnya tidak
melulu menghabiskan waktu di dalam bangku sekolah formal.akan tetapi pendidikan
juga bisa diperoleh disaat bermain dan belajar. Rata –rata anak kecil cenderung
menyukai sebuah permainan. Dalam hal ini lah permainan mempunyai titik sentral
untuk perkembangan seorang anak. Kaerena ini lah fungsi permainan bagi anak
adalah merangsang pertumbuhan, perkembangan maupun kecerdasan dasar seorang
anak.
II. RUMUSAN MASALAH
1. Hakekat bermain bagi anak
2. Perkembangan fase bermain
3. Karakteristik bermain edukatif
III. PEMBAHASAN
1. Hakekat bermain bagi anak
A. Pengertian bermain
Bermain adalah kegiatan yanga
anak-anak lakukan sepanjang hari karena
bagi anak bermain adalah hidupdan hidup adalah bermain (Mayesty,1990:196-197).
Anak usia dini tidak membedakan antara bermain belajar dan bekerja. Anak – anak
umum nya menikmati permainan dan akan terus melakukan dimanapun mereka berada
dan memiliki kesempatan untuk bermaian.
Piaget dalam Mayesti (1990:42)
mengatakan bahwa bermain adalah sesuatu kegiatan yang dilakukan secara berulang-ulang dan akan menimbulkan
kesenangan, kepuasan bagi diri sendiri, sedangkan Parten dalam Dockett dan
Fleer (2000:14) memandang bahwa bermain adalah sebagai sarana sosialisasi
diharapkan melalui bermain dapat memberi kesempatan anak untuk bereksplorasi,
menemukan, mengekspresikan perasaan, berkreasai dan belajar secara me
nyenangkan.[1]
Emmy Budiati (2008) Bermain
merupakan kebutuhan bagi anak, karena melalui bermain anak akn merasa senang,
dan bermain adalah suatu kebutuhan yang sufah ada (inhem) dalam diri anak.
Dengan demikian anak dapat mempelajari berbagai keterampialan dengan senang
hati, tanpa merasa di paksa atau pun ter paksa
ketika kegiatan bermain. Bermain mempunyai banyak manfaat dalam
mengembangkan ketrampilan dan kecerdasan anak agar lebih siap menuju pendidikan
selanjutnya. Kecerdasan anak tidak hanya di tentukan oleh skor tunggal yang di
ungkap melalui tes intelegensi saja akan tetapi anak juaga memiliki sejumplah
kecerdasan jamak yang berwujud keterampilan dan kemampuan.
Contohnya ketika menolong teman
tidak saling berebut dan bertengkar kesediaan berbagi dan kedisiplinan, berani
mengambil keputusan dan bertanggung jawab.
Sebagai mana plato dan
Aristoteles, frobel menganggap jika bermain sebagai legiatan yang mempunyai
nilai praktis. Artinya, bermain sebagai media untuk meningkatkan ketrampilan
dan kemampuan tertentu pada anak.
Bermain juga berfungsi sebagai sarana refresing untuk memulihkan tenaga
seseorang setelah lelah bekerja dan dihinggapi rasa jenuh. [2]
Jadi jika sejak awal perkembangan
nya anak di kondisikan pada bidang yang di minatinya maka anak akan semakin
meningkat pengetahuan nya akan bidang yang ditekuni telak. Sedangkan Frobel
berdasarkan pengalaman nya sebagai pengajar, lebih menekan kan pentingnya
bermain dalam belajar, dia menyadari bahwa kegiatan bermain maupun mainan yang
dinikmati anak dapat digunakan untuk menarik perhatian kepada anak dan mampu
untuk mengembangkan pengetahuan mereka.
B. Tujuan bermain
Pada dasrnya bermain memiliki
tujuan utama yakni memelihara perkembangan atau pertumbuhan optimal anak usia
dini melalui bermain yang kreatif, interaktif dan terintregrasi dengan lingkungan bermain anak.
Elkonin dalam Catron dan Allen
(1999:163) salah seorang murid dari Vygodskymenggambarkan empat prinsip bermain
yaitu.
a) Dalm bermain anak mengembangkan sistem
untuk memahami apa yang sedang terjadi dalam rangka mengetahui tujuan yang
kompleks
b) Kemampuan untuk menempatkan perspektif orang lain melalui aturan – aturan
dan menegosiasikan aturan bermain.
c) Anak menggunakan suatu replika untuk menggantikan prodak nyata
lalu mereka menggantikan suatu prodak yang berbeda, kemampuan menggunakan
simbul termasuk kedalam perkembangan berfikir abstrak dan imajinatif.
d) Kehati –hatian dalam bermain mungkin
terjadi karena anak perlu mengikuti aturan permainan yang telah di tentukan
bersama teman lain nya.
Untuk mendukung hal tersebut
seorang anak mampu melakukan pembelajaran yang situasinya merupakan khayalan
anak tersebut atau yang bisa di sebut dengan bermain sosiodrama bermain pura –
pura atau bermain drama.
Beberapa tujuan dari bermain dan
permainan anak sebagai berikut
a. Menanamkan kebiasaan disiplin dan
tanggungjawab dalam kehidupan sehari- hari.
b. Melatih sikap ramah dan suka bekerja sama dengan
teman, menujukkan kepedulian.
c. Menanamkan budipekerti yang baik.
d. Melatih anak untuk berani dan menantang
ingin mempunya rasa ingin tahu yang besar.
e. Melatih anak untuk menyayangi dan mencintai
lingkungan dan ciptaan tuhan.
f. Melatih anak untuk mencari berbagai konsb
moral yang mendasar seperti salah, benar, jujur, adil dan fair.
C. Fungsi bermain
Pada awal abad yang lalu, Sigmund
Freud sudah mengemukakan bahwa kegiatan bermain memungkinkan tersalurnya
dorongan – dorongan instingtual anak dalm meringankan snak pada beban mental.
Kegiatan bermain merupakan sarana yang aman yang dapat digunakan untuk mengulan
ulang pelaksanan dorongan – dorongan itu dan juga reaksi – reaksi mental yang
mendasarinya .
Wolfgang dan wolfgang (1999:32-37)
berpendapat bahwa terdapat sejumplah nilai- nilai dalam bermain (the value of
play) yaitu bermain dapat mengembangkan keterampilan sosial, emosional,
koknitif .dalam pembelajaran terdapat berbagai kegiatan yang memiliki dampak
dalam perkembangan anak, sehingga dapat di identifikasikan bahwa fungsi bermain
antara lain:
a. Berfungsi untuk mencerdaskan otot pikiran.
b. Berfungsi untuk mengasah panca indra.
c. Berfungsi sebagai media terapi.
d. Berfungsi untuk memacu kreatifitas.
e. Berfungsi untuk melatih intelektual.
f. Berfungsi utuk menemukan sesuatu yang baru.
g. Berfungsi untuk melatih empati.[3]
2. Perkembangan fase bermain
Beberapa hal untuk mengetahui
tentang proses perkembangan anak adalah proses pertumbuhan dan perkembangan
anak berlangsung secara teratur, saling terkait dan berkesinambungan. Secara
umum karakteristik perkembangan anak adalah:
Pertumbuhan dan perkembangan terjadi secara
bersamaan dan berkorelasi. Sebagai contoh: pertumbuhan anak serat syaraf otak
dan akan disertai oleh perubahan fungsi dari suatu perkembangan
intelegensianya.Pembangunan ini memiliki pola yang teratur dan urutan.
Pertumbuhan dan perkembangan pada tahap awal akan menentukan tahap berikutnya
dari pertumbuhan dan perkembangan. Sebagai contoh: sebelum anak bisa berjalan,
ia harus mampu bangun pertama.[4]
Dalam bermaian, anak belajar
untuk berinteraksi dengan lingkungan dan orang yang ada di sekitarnya. Dari
interaksi dengan lingkungan dan orang di sekitarnya maka kemampuan untuk ber
sosialisasi anak pun akan semakin bertambah dan berkembang.pada usia 2 hingaga
5 tahun, anak memiliki perkembangan bermain dengan teman bermainnya.
Berikut ini ada enam tahapan
perkembangan bermaian pada anak menurutParten dan Rogersdalam Dockettdan Fleer
(1992:62) yang menjelaskan:
a. Unoccupied atau tidak menetap.
Anak hanya melihat anak yang lain
lagi bermain akan tetapi anak tidak ikut bermain. Anak pada tahap ini hanya
mengamati sekeliling dan berjalan jalan, tetapi tidak terjadi interaksi dengan
anak yang lagi bermain.
b. Unlooker atau penonton
Pada tahap ini anak belum mau
terlibat untuk bermain akan tetapi anak sudah memolai untuk mendekaat dan
bertanya pada teman yang sedanh bermain dan anak sudah mulai muncul
ketertarikan untuk bermain setelah mengamati anak mampu mengubah caranya untuk
bermaian..
c. Solitary independent play atau bermain
sendiri.
Tahap ni anak sudah mulai untuk
bermain ,akan tetapi seorang anak bermain sendiri dengan mainan nya, terkadang
anak berbicara dengan teman nya yang sedang bermain, tetapi tidah terlibat
dengan permainan anak lain.
d. Parallel activiti atau kegiatan pararel.
Anak sudah molai bermain dengan
anak yang lain tetapi belum terjadi interaksi dengan anak yang lain nya dan
anak cenderung menggunakan alat yang ada di sekelilingnya. Pada tahap ini ,anak
juga tidak mempengaruhi dalam bermain dengan permainannya anak masih senang
memanipulasi benda daripada bermain dengan anak lain. Dalam tahap ini biasanya
anak anak memain kan alat permainan yang sama dengan anak yang lain naya. Apa
yang dilakukan anak yang stau tidak mempengaruhi anak yang lain nya.
e. Associative play atau bermain dengan teman.
Pada tahap terjadi interaksi yang
lebih komplek pada anak. Terjadi tukar menukar mainan antara anak yang satu
dengan yang lain nya dan cara bermain anak sudah saling mengingatkan. Meskipun
anak dalam satu kelompok melakukan kegiatan yang sama, tidak terdapat aturan
yang mengikat dan belum memiliki tujuan yang khusus atau belum terjadi dikusi
untuk mencapai satu tujuan yang sama seperti menyusun bangunan bangunan yang
bernacam-macam akan tetapi masing masing anak dapat sewaktu-waktu meninggalkan
bangunan tersebuat dengan semaunya tidak terikat untuk merusak nya kembali.
f. Cooperative or organized supplementary
play atau kerja sama dalam bermain.
Saat anak bermain bersama dan
lebih terorganisir dan masing masing menjalannkan sesuai dengan job yang sudah
mereka dapat yang saling mempengaruhi satu sama yang lain. Anak bekerja sama
dengan anak yang lain nya untuk membangun sesuatu terjadi persaingan memmbentuk
permainan drama dan biasanya terpengaruh oleh anak yang memimpin permainan.
Dari keenam tahap diatas tampak
bahwa dalam suatu permaian akan timbul rasa ingin tahu rasa ingin berinteraksi
dan rasa untuk ber sosialisasi dengan anak yang lain nya.
bermain juga mengalami
perkembangan kemampuan yang berbeda bagi masing masing anak yatu sesui dengan
usia antara lain dari umur 0-2, 1-2, 2-3, 3-4, 4-5, 5-7, dan 7+.[5]
3. Karakteristik bermain edukatif
Pertumbuhan dan perkembangan anak di tentukan oleh faktor
bawaan dan faktor lingkungan. Faktor bawaan adalah sifat yang di turunkan oleh
kedua orang tuanya. Adapun faktor lingkungan yaitu pengaruh luar yang mempengaruhi
pertumbuhan dan perkembangan pada seorang anak, misalnya kesehatan, gizi, pola
asuh pendidikan dan yang lain nya.
Beberapa ahli pesikoanalisis
berkeyakinan bahwa lingkungan sangan berperan penting untuk seorang anak pada
pola pikirnya dan pembentukan karakter atau sikap, kepribadian dan pengembangan
kemampuan anak secara optimal. Ank yang mendapat lingjungan yang baik untuk
merangsang pertumbuhan otak, misalnya jarang di sentuh jarang diajak main atau
jarang berkomunikasi perkembangan otak nya akan lebih kecil 20 % - 30% dari
ukuran normal seusianya.
Hasil penelitian mengemukakan
bahwa perumbuhan sel jaringan otak pada anak usia 0-4 tahun mencapai 50% hingga
8 tahun mencapai 80% maka banyak para ahli yang mengemukakan dan menyebut
periode perkembangan kanak- kanak sebagai periode emas, karena hanya ada satu
akli pada kehidupan manusia.
Karakteristik bermain edukatif
yaitu segala sesuatu yang dipergunakan atau yangdijalankan sebagai sarana untuk
bermain yang mengandung pendidikan (edukatif) dan mampu mengembangkan kemampuan
anak.
Adapun alat yang bisa digunakan untuk
memainkan permainan edukatif yaittu harus mengandung nilai pendidikan, aman
dantidak berbahaya dan berfungsi mengembangkan kemampuan anak.
________________________________________
[1] Dr. Yuliani Nurani Sujiono,
M.Pd. KONSEP DASAR PENDIDIKAN ANAK USIA DINI, 2009, (Jakarta: PT. Indeks), hlm.
144-145
[2] Iva Noorlaila, S.Pd, Panduan
Lengkap Mengajar Paud, 2010, (Yogyakarta: PINUS BOOK PUBLISHER), hlm. 35-37
[3] Dr. Yuliani Nurani Sujiono,
M.Pd. KONSEP DASAR PENDIDIKAN ANAK USIA DINI, hlm. 45-47
[4] Iva Noorlaila, S.Pd, Panduan
Lengkap Mengajar Paud, hlm. 42
[5] Dr. Yuliani Nurani Sujiono,
M.Pd. KONSEP DASAR PENDIDIKAN ANAK USIA DINI, hlm. 146
Zaenal Aqib. PEDOMAN TEKNIS
PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN ANAK USIA DINI, hal 61
download MAKALAH ANAK USIA DINI WORD NYA DISINI GAN : http://idsly.com/B9zI

Luar biasa makalahnya
BalasHapus