MAKALAH STRATEGI MORAL PADA ANAK USIA DINI-Pendidikan harus mempunyai landasan yang jelas dan terarah. Landasan tersebut sebagai acuan atau pedornan dalam proses penyelenggaraan pendidikan, baik dalam institusi pendidikan formal, non formal maupun informal. Yang dimaksud landasan yang jelas dan terarah adalah bahwa pendidikan harus berprinsip pada pengokohan moral-agama anak didik di samping aspek-aspek lainnya. Hal ini sangat diperlukan sebagai upaya untuk mengantarkan anak didik agar dapat berpikir, bersikap, dan berperilaku secara terpuji (akhlak al-karimah). Upaya tersebut bisa dilakukan oleh para pendidik (guru dan orang tua) pada program PAUD adalah mengatur strategi moral pada usia anak dini. Pertumbuhan dan perkembangan merupakan proses alami yang terjadi dalam kehidupan manusia, dimulai sejak dalam kandungan samai akhir hayat. Pertumbuhan lebih menitikberatkan pada perubahan fisik yang bersifat kuantitatif, sedangkan perkembangan yang bersifat kualitatif berarti serangkaian perubahan progesif sebagai akibat dari proses kematangan dan pengalaman.Manusia tidak pernah statis, semenjak pembuahan hingga ajal selalu terjadi perubahan, baik fisik maupun kemampuan psikologis.
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kecerdasan merupakan salah satu faktor utama yang
menentukan sukses gagalnya peserta didik belajar di sekolah. Peserta didik yang
mempunyai taraf kecerdasan rendah atau di bawah normal sukar diharapkan
berprestasi tinggi. Tetapi tidak ada jaminan bahwa dengan taraf kecerdasan
tinggi seseorang secara otomatis akan sukses belajar di sekolah.
Pendidikan nilai-nilai moral
dan keagamaan pada program PAUD merupakan pondasi yang kokoh dan sangat penting
keberadaannya, dan jika hal itu telah tertanam serta terpatri dengan baik
dalam setiap insan sejak dini, hal tersebut merupakan awal
yang baik bagi pendidikan anak bangsa untuk menjalani pendidikan selanjutnya.
Bangsa Indonesia sangat menjunjung tinggi nilai-nilai moral dan keagamaan.
Nilai-nilai luhur ini pun dikehendaki menjadi
motivasi spiritual bagi bangsa ini dalam rangka melaksanakan sila-sila lainnya
dalam pancasila
B.
Tujuan Penulisan Makalah
Tujuan penulisan makalah ini adalah :
1.
Untuk
mengetahui tentang perkembangan agama dan moral dalam pendidikan AUD
2.
Untuk
memberikan informasi kepada pembaca betapa pentingnya sumber daya alam
C.
Manfaat
penulisan makalah
Manfaat penulisan makalah ini adalah :
1.
Kita
bisa mengetahui apa saja strategi dalam perkembangan agama dan moral pendidikan
AUD
2.
Untuk
menambah wawasan tentang pemanfaatan pendidikan agama dan moral AUD
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Perkembangan
Moral dan Nilai Agama Anak Usia Dini
Seiring dengan
perkembangan sosial, anak-anak usia prasekolah juga mengalami perkembangan
moral. Adapun yang dimaksud dengan perkembangan moral adalah perkembangan yang
berkaitan dengan aturan dan konvensi mengenai apa yang seharusnya dilakukan
oleh manusia dalam interaksinya dengan orang lain. Anak-anak ketika dilahirkan
tidak memiliki moral (imoral). Tetapi dalam dirinya terdapat potensi moral yang
siap berinteraksi dengan orang lain (dengan orang tua, saudara dan teman
sebaya), anak belajar memahami tentang perilaku mana yang baik, yang buruk,
yang boleh dikerjakan dan tingkah laku mana yang buruk, yang tidak boleh
dikerjakan.[4]
Selain kecerdasan yang
ada, kecerdasan yang mendasari seluruh kecerdasan yaitu cerdas spiritual.
Karena anak yang shaleh (cerdas spiritual), maka dia pasti cerdas. Sementara
anak yang cerdas belum tentu shaleh. Dalam hal keshalehan ini yang perlu
dilakukan orang tua adalah bagaimana agar anak memiliki akhlakul
karimah (akhlak mulia), dapat dipercaya, memegang teguh prinsip
kebenaran dan cerdas.
Keyakinan akan adanya
sang pencipta atau Tuhan sebagai causa prima sangat
membantunya dalam membentuk pribadi yang baik.
Agama sebagian besar
tidak berarti bagi anak-anak meskipun mereka menunjukkan minat dalam ibadah
agama, tetapi karena banyaknya masalah yang kepada anak-anak dijelaskan dalam
rangka agama seperti kelahiran, kematian dan lain-lain, maka keingintahuan
mereka tentang masalah-masalah agama menjadi besar sehingga mereka mengajukan
banyak pertanyaan. Anak-anak menerima jawaban terhadap pertanyaan mereka tanpa
ragu-ragu, sebagaimana sering dilakukan oleh anak yang lebih besar dan dewasa.
Keyakinan pada sang
pencipta adalah hal penting yang harus diberikan kepada anak. Hal penting yang
perlu dipertanyakan sebagai orang tua adalah; mampukah orang tua melahirkan
generasi baru, anak-anak kita, yang kreatif, cerdas dan mengakselerasikan
intelegensinya; memiliki intregitas spiritual dan moral sekaligus.[5]
B.
Konsep-konsep
Pengembangan Moral dan Nilai Agama Anak Usia Dini
Semua manusia dilahirkan
dalam keadaan lemah, baik fisik maupun psikis. Walaupun dalam keadaan
yang demikian, ia telah memiliki kemampuan bawaan yang bersifat ”laten”.
Potensi bawaan ini yang memerlukan pengembangan dan pemeliharaan yang mantap,
lebih-lebih pada usia dini.
Sesuai dengan prinsip
pertumbuhannya, seorang anak menjadi dewasa memerlukan bimbingan sesuai dengan
prinsip yang dimilikinya, yaitu:
1. Prinsip Biologi
Secara fisik anak yang
baru dilahirkan dalam keadaan lemah. Dalam segala gerak dan tindak tanduknya,
ia selalu memerlukan bantuan dari orang-orang dewasa sekelilingnya. Dengan kata
lain, ia belum dapat berdiri sendiri karena manusia bukanlah makhluk
instinktif. Keadaan tubuhnya belum tumbuh secara sempurna untuk difungsikan
secara maksimal.
2. Prinsip tanpa daya
Sejalan dengan belum
sempurnanya pertumbuhan fisik dan psikisnya, maka anak yang baru dilahirkan
hingga menginjak usia dewasa selalu mengharapkan bantuan dari orang tuanya. Ia
sama sakali tidak berdaya untuk mengurus diriya sendiri.
3. Prinsip Eksplorasi
Kemantapan dan
kesempurnaan perkembangan potensi manusia yang dibawanya sejak lahir, baik
jasmani maupun rohani memerlukan pertimbangan melalui pemeliharaan dan latihan.
Jasmaninya baru akan berfungsi secara sempurna jika dipelihara dan dilatih.
Akal dan fungsi mental lainnya pun baru akan menjadi baik dan berfungsi jika
kematangan dan pemeliharaan serta bimbingan dapat diarahkan kepada
pengeksplorasian perkembangannya.[6]
Ada beberapa teori
timbulnya jiwa keagamaan anak, yaitu:
-
Rasa Ketergantungan (sense of depende)
Manusia dilahirkan ke
dunia ini memiliki empat kebutuhan, yakni keinginan untuk perlindungan (security),
keinginan akan pengalaman baru (new experimence), keinginan untuk
mendapatkan tanggapan (response) dan keinginan untuk dikenal (recognition).
Berdasarkan kenyataan dan kerjasama dari keempat keinginan itu, maka bayi sejak
dilahirkan hidup dalam ketergantungan. Melalui pengalaman-pengalaman yang
diterimanya dari lingkungan itu kemudian terbentuklah rasa keagamaan pada diri
anak.
-
Instink keagamaan
Bayi yang dilahirkan
sudah memiliki beberapa instink, diantaranya instink keagamaan. Belum
terlihatnya tindak keagamaan pada diri anak karena beberapa fungsi kejiwaan
yang menopang kematangan berfungsinya instink itu belum sempurna. Dengan
demikian pendidikan agama perlu diperkenalkan kepada anak jauh sebelum usia 7
tahun. Artinya, jauh sebelum usia tersebut, nilai-nilai keagamaan perlu
ditanamkan kepada anak sejak usia dini. Nilai keagamaan itu sendiri bisa
berarti perbuatan yang berhubungan antara manusia dengan Tuhan atau hubungan
antar-sesama manusia
Memahami konsep
keagamaan pada anak-anak berarti memahami sifat agama pada anak-anak. Maka
bentuk dan sifat agama pada diri anak dapat dibagi atas:
1.
Unreflective (tidak
mendalam)
Mereka mempunyai anggapan atau menerima terhadap ajaran
agama dengan tanpa kritik. Kebenaran yang mereka terima tidak begitu mendalam
sehingga cukup sekedarnya saja dan mereka sudah merasa puas dengan keterangan
yang kadang-kadang kurang masuk akal.
2.
Egosentris
Anak memiliki kesadaran akan diri sendiri sejak tahun
pertama usia perkembangannya dan akan berkembang sejalan dengan pertambahan
pengalamannya. Semakin bertumbuh semakin meningkat pula egoisnya.
3.
Anthromorphis
Konsep ketuhanan pada diri anak menggambarkan aspek-aspek
kemanusiaan. Melalui konsep yang terbentuk dalam pikiran, mereka menganggap
bahwa perikeadaan Tuhan itu sama dengan manusia. Pekerjaan Tuhan mencari dan
menghukum orang yang berbuat jahat di saat orang itu berada dalam tempat yang
gelap. Anak menganggap bahwa Tuhan dapat melihat segala perbuatannya langsung
ke rumah-rumah mereka sebagaimana layaknya orang mengintai. Pada anak usia 6
tahun, pandangan anak tentang Tuhan adalah sebagai berikut: Tuhan mempunyai wajah
seperti manusia, telinganya lebar dan besar, Tuhan tidak makan tetapi hanya
minum embun. Konsep ketuhanan yang demikian mereka bentuk sendiri berdasarkan
fantasi masing-masing.
4.
Verbalis
dan Ritualis
Kehidupan agama pada anak sebagian
besar tumbuh mula-mula secara verbal (ucapan). Mereka menghafal secara verbal
kalimat-kalimat keagamaan dan selain itu pula dari Amalia yang mereka
laksanakan berdasarkan pengalaman menurut tuntunan yang diajarkan kepada
mereka. Perkembangan agama pada anak Sangay besar pengaruhnya terhadap
kehidupan agama anak itu di usia dewasanya. Banyak orang dewasa yang taat
karena pengaruh ajaran dan praktek keagamaan yang dilaksanakan pada masa
kayak-kanak mereka. Latihan-latihan bersifat verbalis dan upacara keagamaan
yang bersifat rutinitas (praktek) merupakan hal yang berarti dan merupakan
salah satu ciri dari tingkat perkembangan agama pada anak-anak.
5.
Imitatif
Tindak keagamaan yang dilakukan oleh anak-anak pada
dasarnya diperoleh dari meniru. Berdoa dan shalat, misalnya, mereka laksanakan
karena hasil melihat realitas di lingkungan, baik berupa pembiasaan ataupun
pengajaran yang intensif. Dalam segala hal anak merupakan modal yang positif
dalam pendidikan keagamaan pada anak.
6.
Rasa
heran
Rasa heran dan kagum merupakan tanda dan sifat keagamaan
yang terakhir ada pada anak. Rasa kagum yang ada pada anak sangat berbeda
dengan rasa kagum pada orang dewasa. Rasa kagum pada anak-anak ini belum
bersifat kritis dan kreatif, sehingga mereka hanya kagum terhadap keindahan
lahiriah saja. Hal ini merupakan langkah pertama dari pernyataan kebutuhan anak
akan dorongan untuk mengenal suatu pengalaman yang baru (new experince). Rasa
kagum mereka dapat disalurkan melalui cerita-cerita yang menimbulkan rasa
takjub pada anak-anak. Dengan demikian kompetensi dan hasil belajar yang perlu
dicapai pada aspek pengembangan moral dan nilai-nilai agama adalah kemampuan
melakukan ibadah, menganal dan percaya akan ciptaan Tuhan dan mencintai sesama
manusia
C. Strategi dan Teknik
Pengembangan Moral dan Nilai Agama Anak Usia Dini
Ada 3 strategi dalam pembentukan perilaku moral pada anak
usia dini, yaitu: strategi latihan dan pembiasaan, Strategi aktivitas dan
bermain, dan Strategi pembelajaran (Wantah, 2005: 109).
1.
Strategi
Latihan dan Pembiasaan
Latihan dan pembiasaan merupakan strategi yang efektif
untuk membentuk perilaku tertentu pada anak-anak, termasuk perilaku moral.
Dengan latihan dan pembiasaan terbentuklah perilaku yang bersifat relatif
menetap. Misalnya, jika anak dibiasakan untuk menghormati anak yang lebih tua
atau orang dewasa lainnya, maka anak memiliki kebiasaan yang baik, yaitu selalu
menghormati kakaknya atau orang tuanya.
2.
Strategi
Aktivitas Bermain
Bermain merupakan aktivitas yang dilakukan oleh setiap
anak dapat digunakan dan dikelola untuk pengembangan perilaku moral pada anak.
Menurut hasil penelitian Piaget (dalam Wantah, 2005: 116), menunjukkan bahwa
perkembangan perilaku moral anak usia dini terjadi melalui kegiatan bermain.
Pada mulanya anak bermain sendiri tanpa dengan menggunakan mainan. Setelah itu
anak bermain menggunakan mainan namun dilakukan sendiri. Kemudian anak bermain
bersama temannya bersama temannya namun belum mengikuti aturan-aturan yang
berlaku. Selanjutnya anak bermain bersama dengan teman-temannya berdasarkan
aturan yang berlaku.
3.
Strategi
Pembelajaran
Usaha pengembangan moral anak usia dini dapat dilakukan
dengan strategi pembelajaran moral. Pendidikan moral dapat disamakan dengan
pembelajaran nilai-nilai dan pengembangan watak yang diharapkan dapat
dimanifestasikan dalam diri dan perilaku seseorang seperti kejujuran,
keberanian, persahabatan, dan penghargaan (Wantah, 2005: 123).
Pembelajaran moral dalam
konteks ini tidak semata-mata sebagai suatu situasi seperti yang terjadi dalam
kelas-kelas belajar formal di sekolah, apalagi pembelajaran ini ditujukan pada
anak-anak usia dini dengan cirri utamanya senang bermain. Dari segi tahapan
perkembangan moral, strategi pembelajaran moral berbeda orientasinya antara
tahapan yang satu dengan lainnya. Pada anak usia 0 – 2 tahun pembelajaran lebih
banyak berorientasi pada latihan aktivitas motorik dan pemenuhan kebutuhan anak
secara proporsional. Pada anak usia antara 2 – 4 tahun pembelajaran moral lebih
diarahkan pada pembentukan rasa kemandirian anak dalam memasuki dan menghadapi
lingkungan. Untuk anak usia 4 – 6 tahun strategi pembelajaran moral diarahkan
pada pembentukan inisiatif anak untuk memecahkan masalah yang berhubungan
dengan perilaku baik dan buruk.
Secara umum ada berbagai
teknik yang dapat diterapkan untuk mengembangkan moral anak usia dini. Menurut
Wantah (2005: 129) teknik-teknik dimaksud adalah: 1. membiarkan, 2. tidak
menghiraukan, 3. memberikan contoh (modelling), 4. mengalihkan arah
(redirecting), 5. memuji, 6. mengajak, dan 7. menantang (challanging).
Beberapa cara yang
dilakukan orang tua untuk mengasah kecerdasan spiritual anak adalah sebagai
berikut:
-
Memberi
contoh
Anak usia dini mempunyai
sifat suka meniru . karena orang tua merupakan lingkungan pertama yang ditemui
anak, maka ia cenderung meniru apa yang diperbuat oleh orang tuanya. Di sinilah
peran orang tua untuk memberikan contoh yang baik bagi anak, misalnya mengajak
anak untuk ikut berdoa. Tatkala sudah waktunya shalat, ajaklah anak untuk
segera mengambil air wudhu dan segera menunaikan sholat. Ajari shalat berjamaah
dan membaca surat-surat pendek al-Qur’an dan Hadis-hadis pendek.
§ Melibatkan anak menolong orang lain.
Anak usia dini diajak
untuk beranjangsana ke tempat orang yang membutuhkan pertolongan. Anak disuruh
menyerahkan sendiri bantuan kepada yang membutuhkan, dengan demikian anak akan
memiliki jiwa sosial.
-
Bercerita
serial keagamaan
Bagi orang tua yang
mempunyai hobi bercerita, luangkan waktu sejenak untuk meninabobokan anak
dengan cerita kepahlawanan atau serial keagamaan. Selain memberikan rasa senang
pada anak, juga menanamkan nilai-nilai kepahlawanan atau keagamaan pada anak
dan konsisten dalam mengajarkannya. Dalam mengajarkan nilai-nilai spiritual
pada anak diperlukan kesabaran, tidak semua yang kita lakukan berhasil pada
saat itu juga, adakalanya memerlukan waktu yang lama dan berulang.
D. Pengembangan Nilai-nilai Agama
Anak Usia Dini
Menurut penelitian
Ernest Harms perkembangan agama anak-anak itu melalui beberapa fase
(tingkatan). Dalam bukunya The Development of Religious on Children,
ia mengatakan bahwa perkembangan agama pada anak-anak itu melalui tiga
tingkatan, yaitu
1.
The fairy tale stage (tingkat dongeng)
Pada tingkatan ini
dimulai pada anak usia 3-6 tahun. Pada anak dalam tingkatan ini konsep mengenai
Tuhan lebih banyak dipengaruhi oleh fantasi dan emosi. Pada tingkatan ini anak
menghayati konsep ketuhanan sesuai dengan tingkat perkembangan intelektualnya.
2.
The realistic stage (tingkat kenyataan)
Tingkat ini dimulai sejak anak masuk SD
hingga sampai ke usia (masa usia) adolesense. Pada masa ini ide ketuhanan anak sudah mencerminkan
konsep-konsep yang berdasarkan kepada kenyataan (realis). Konsep ini timbul
melalui lembaga-lembaga keagamaan dan pengajaran agama dari orang dewasa
lainnya. pada masa ini ide keagamaan anak didasarkan atas dorongan emosional,
hingga mereka dapat melahirkan konsep Tuhan yang formalis.
3.
The Individual stage (tingkat individu)
Anak pada tingkat ini memiliki kepekaan emosi
yang paling tinggi sejalan dengan perkembangan usia mereka. Ada beberapa alasan mengenalkan
nilai-nilai agama kepada anak usia dini, yaitu anak mulai punya minat, semua
perilaku anak membentuk suatu pola perilaku, mengasah potensi positif diri,
sebagai individu, makhluk social dan hamba Allah. Agar minat anak tumbuh subur,
harus dilatih dengan cara yang menyenangkan agar anak tidak merasa terpaksa
dalam melakukan kegiatan.[12]
BAB III
PENUTUP
-
Kesimpulan
Program pengembangan
nilai-nilai agama berbeda dengan pelaksanaan program pembelajaran kemampuan
dasar lainnya. Pengembangan nilai-nilai agama berkaitan erat dengan pembentukan
perilaku manusia, sikap, dan keyakinannya. Karena itu, diperlukan inovasi
pengembangan yang komprehensif sesuai dengan perkembangan dan kemampuan anak
didik.
Pengembangan nilai-nilai
agama di Taman Kanak-kanak berkaitan erat dengan pembentukan perilaku manusia,
sikap, dan keyakinan. Oleh sebab itu, diperlukan berbagai inovasi pengembangan
yang komprehensif sesuai dengan perkembangan dan kemampuan anak didik. Adapun
yang melatar belakangi esensi inovasi dalam bidang pengembangan pembelajaran
adalah munculnya berbagai kendala dan kelemahan serta kekuranglengkapan yang
ada di lingkungan penyelenggara pendidikan di Taman Kanak-kanak.
Adapun yang
melatarbelakangi esensi inovasi dalam bidang pengmbangan pembelajaran adalah
munculnya berbagai kendala dan kelemahan, serta kekuranglengkapan yang ada di
lingkungan penyelenggaraan pendidikan itu sendiri. Oleh karena itu, pihak
praktisi pendidikan perlu melakukan inovasi. Itu berarti bahwa disain kurikulum
dan pengembangan perlu diperbaharui untuk menjangkau kualitas lulusan yang
diharapkan
DAFTAR PUSTAKA
Suryani
dkk. (2008) Metode Pengembangan Perilaku
dan Kemampuan Dasar Anak Usia Dini. Jakarta. Universitas Terbuka
http//blog.tp.ac.id/intstrumen-penilaian-dalam-pengembangan-nilai-nilai-keagamaan-anak-anak-usia-dini

kaaa boleh minta sumber strategi perkembangan moral?
BalasHapusmantap mas..terimakasih
BalasHapus